"Cakap sahabat yang jujur lebih besar harganya daripada harta benda yg diwarisi dari nenek moyang"(Saidina Ali)

Nuffnang

Tuesday, September 07, 2010

Syurga Bagi Mereka Yang Bertaubat


ABDUR RAHMAN BIN GHANNAM al-Daws mengisahkan bahawa suatu hari Mu’adz bin Jabal datang kepada Rasulullah. Setelah mengucapkan salam dia memberitahu : “Wahai Rasulullah, di depan pintu ada seorang pemuda segak sedang menangis seperti hamba sahaya kecil kehilangan emaknya. Dia ingin berjumpa denganmu.”
“Suruh pemuda itu masuk wahai Mu’adz” kata Nabi. Mu’adz pun membawa pemuda itu masuk menemui Rasulullah.
“Apa yang membuatmu menangis wahai pemuda?” Tanya Rasulullah.
“Macam mana aku tidak menangis ya Rasulullah, aku telah melakukan dosa besar yang aku rasa tidak mungkin akan diampuni Allah!” jawab pemuda itu.
Rasulullah terus bertanya : Apakah engkau mempersekutukanNya?” Tanya Nabi.
Pemuda itu serta merta menjawab : “Aku berlindung kepada Allah untuk mempersekutukanNya dengan apa jua pun,” jawabnya.
Rasulullah pun bertanya lagi : “Apakah engkau membunuh seseorang yang diharamkan Allah untuk membunuhnya?”
“Tidak ya Rasulullah.”
“Jika begitu Allah akan mengampuni dosa-dosamu meskipun dosamu sebesar gunung yang menjulang ke langit.” Kata Rasulullah.
Pemuda itu tiba-tiba menangis kuat sambil berkata : “Dosaku lebih besar daripada gunung itu!”
“Allah akan mengampuni dosa-dosamu meskipun dosamu sebesar tujuh bumi berikut, lautan dan segala yang ada di dalamnya.” Kata Rasulullah sambil tersenyum.
“Namun dosaku lebih besar daripada itu ya Rasulullah!” jawab pemuda itu lagi.
Dengan sabar Rasulullah bersabda : “Allah tetap akan mengampuni dosa-dosamu sebesar langit dan bintang-bintangnya sekali.”
Lagi-lagi pemuda itu menjawab : “Dosaku lebih besar daripada itu ya Rasulullah!”
“Wahai pemuda! Apakah dosa-dosamu yang lebih besar ataukah Tuhanmu?” Tanya Rsulullah.
Maka pemuda itu tersungkur di hadapan Nabi dan berkata : Subhanallah, tidak ada yang lebih besar daripada Tuhanku.”
“Kalau begitu, dosa apakah yang telah engkau perbuat?” Tanya Nabi.
Dengan air mata yang berlinang pemuda itu pun menceritakan :
“Sudah tujuh tahun ini pekerjaanku mencuri kain kafan mayat yang baru dikuburkan, untuk aku jual ke pasar. Pada suatu hari ada seorang gadis Ansar meninggal dunia. Setelah gadis itu dikubur dan ditinggalkan oleh keluarganya, seperti biasa aku pun mendatangi kuburnya untuk mengambil kain kafannya. Aku gali kuburnya dan aku keluarkan mayatnya, kemudian aku lepaskan kain kafannya daripada tubuhnya. Aku tinggalkan dia dalam keadaan telanjang di kubur, kemudian aku segera pulang membawa kain itu. Setelah aku sampai di rumah aku teringat betapa indahnya tubuh gadis itu, sehingga akhirnya aku tergoda untuk melihatnya kembali. Ketika aku melihat mayat gadis yang telanjang itu, aku tidak dapat menguasai diriku sehingga aku menyetubuhinya. Pada masa itu seolah-olah aku mendengar seseorang yang mengatakan : “Wahai pemuda, celakalah engkau di hadapan penghisab di hari kiamat kelak, tempatmu adalah di neraka….” Aku segera sedar dan merasa takut sekali, bagaimana menurut pendapatmu ya Rasulullah?” Tanya pemuda itu mengakhiri kisah perbuatan dosa-dosanya.
Mendengar kisah pemuda itu, Rasulullah sangat tekejut dan berkata : “Pergilah engkau daripada sisiku. Aku takut akan terbakar bersama apimu!”
Pemuda itu pun segera pergi meninggalkan Rasulullah dengan wajah yang sangat murung. Dia pergi ke Madinah dan di tempat itu dia menangis selama empat puluh hari empat puluh malam, memohon ampun kepada Allah. “Ya Allah, ampunilah segala dosa dan kekhilafanku dan berikanlah wahyu kepada Nabi-Mu. Jika Engkau tidak mengampuniku, maka berilah segera aku seksaan yang menghancurkanku di dunia ini, tetapi selamatkanlah aku daripada seksaanMu di hari kiamat nanti…!”
Rupa-rupanya taubat pemuda itu diterima Allah. Allah swt kemudian menurunkan wahyu sepotong ayat kepada Rasulullah : “Dan(juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa kecuali Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui. Mereka itu balasannya ialah keampunan daripada Tuhan mereka dan syurga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah itulah sebaik-baik pahala orang-orang yang beramal.” (Ali-Imran 135-136)
Selepas menerima wahyu itu, Rasulullah bersama para sahabat keluar mencari pemuda itu. Ditemuinya pemuda itu berada di antara dua batu besar dalam keadaan lemah dengan mata yang bengkak kerana terlalu banyak menangis. Rasulullah mendatangi pemuda itu dan membersihkan debu-debu yang melekat di kepalanya sambil berkata:
“Aku ingin memberi khabar gembira kepadamu bahawa engkau kini telah dibebaskan Allah daripada api neraka.”
Rasulullah kemudian berpaling kepada para sahabatnya yang menyertai baginda seraya bersabda : “Beginilah hendaknya kalian menyertai dosa-dosa yang kalian perbuat, seperti yang dilakukan pemuda ini.”

English Version
Note: Not to be confused with Buhlul who lived during the time of Imam Musa Kadhim (as)

Mu'adh ibn Jabal was in tears when he arrived in the presence of the Noble Prophet Muhammad (saw) and greeted him. The Noble Prophet Muhammad (saw) replied to his greeting and asked: "What makes you cry?"
"At the door of the mosque, there is a good-looking youth who weeps as intensely as a mother whose young son has died, and he wishes to meet you," replied Mu'adh ibn Jabal
The Noble Prophet Muhammad (saw) agreed to meet him.
The youth entered and greeted the Noble Prophet Muhammad (saw) who returned his greeting and enquired: "Why do you weep?"
"Why should I not weep? I have committed sins which Allah (SWT) will never forgive and He is bound to hurl me into Hell," said the youth.
"Have you associated someone with Allah (SWT)?"
"No."
"Have you killed anybody?"
"No."
"Even if your sins are of the magnitude of mountains, Allah (SWT) shall forgive them," said the Noble Prophet Muhammad (saw).
"My sins are greater than the mountains," the youth explained.
"Are your sins in the magnitude of the seven earths, the seas, the sands, the trees, all that lies on the earth, in the skies, the stars, the Throne and the Chair?" asked the Noble Prophet Muhammad (saw).
"My sins are greater than all of these things."
"Woe unto you! Are your sins greater than your Lord?"
The youth lowered his head and replied, "Allah (SWT) is devoid of all blemishes; it is my Lord, who is greater."
"Would you not relate one of your sins to me?" enquired the Noble Prophet Muhammad (saw).
"Why not?" responded the youth, whose name was Buhlul. "For seven years I used to dig up the graves of the newly buried, take out their shrouds and sell them. One night, a maiden from amongst the Ansar (The Helpers) died and was buried in the cemetery. When I dug open her grave to remove the shroud from her body, the Shaitan (Satan) tempted me and I committed a grave sin. As I was turning back, the body called out to me: "O' Youth! Don't you fear the Ruler of the Day of Judgment? Woe unto you of the fire of the Day of Judgment!"
Having narrated this, the youth wanted to know what he should do to avoid punishment.
"O' Sinner! Stay away from me for I fear that I might burn in your fire too!" cried out the Noble Prophet Muhammad (saw).
The youth, Buhlul left, heading straight towards the mountains. He tied his hands to his neck and became engrossed in worship, supplications and seeking forgiveness.
For forty days, he wept day and night to the extent that even the wild beasts were affected by his weeping. After forty days he asked Allah (SWT) to either punish him by means of fire or forgive him, so that he might not have to face humiliation on the Day of Judgment.
Allah (SWT) revealed the following verse, which refers to the forgiveness of Buhlul: "And those who, when they commit an indecency or do injustices to their souls, remember Allah and ask forgiveness for their faults and who forgives the faults but Allah..." Noble Qur'an (3:135)
The Noble Prophet Muhammad (saw) recited this verse with a smiling face and then asked: "Who can take me to that youth?"
Mu'adh ibn Jabal agreed to take him. Accompanied with Mu'adh ibn Jabal, the Noble Prophet Muhammad (saw) went to the place where the youth was. The Noble Prophet Muhammad (saw) saw him standing between two boulders, hands tied to his neck and engaged in supplication. His face had become dark due to the scorching sun and all his eyelashes had fallen off due to the intense weeping. Wild beasts had gathered around him while the birds circled over his head, all of them weeping over his distressed and pitiable state.
The Noble Prophet Muhammad (saw) advanced towards him, untied his hands and cleared the soil from the top of his head.
"O' Buhlul! Glad tidings for you; you have been liberated by Allah (SWT) from the fire (of Hell)," the Noble Prophet Muhammad (saw) said.
Then, turning to his companion (Sahaba), Mu'adh ibn Jabal the Noble Prophet Muhammad (saw) said, "This is how you should make amends for your sins."

0 comments:

Post a Comment

Nuffnang